1.
Perlawanan Rakyat Maluku tahun 1817
Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia
Belanda di bawah ini menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku.
- Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di perkebunan-perkebunan dan membuat garam.
- Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi.
- Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kota besar saja.
- Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang.
- Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.
Tahun 1817 rakyat Saparua
mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk memilih Thomas Matulessy (Kapitan
Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van
den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya
Christina Martha Tiahahu. Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan
lain-lain. Perlawanan juga berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut
dan Haruku penduduk berusaha merebut benteng Zeeeland.
Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda
didatangkan dari Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya
digagalkan oleh penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817
Belanda mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam
hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman gantung
pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan menjalani
hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa.
Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan
meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818.
2. Perang Padri tahun 1821-1837
Pada mulanya perang
Padri merupakan Perang Saudara antara para Ulama berhadapan denegan Kaum Adat.
Setelah Belanda ikut campur yang semula membantu kaum adat berubahlah perang
itu menjadi perang Kolonial.
A. Pertentangan antara Kaum
Padri dan Kaum Adat itu dapat dikemukankan sebab-sebabnya sebagai berikut :
·
Kaum Adat adalah kelompok masyarakat
yang walaupun telah memeluk agama islam namun masih teguh memegang adat dan
kebiasaan-kebiasaan lama yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Contoh :menurut adat
Minangkabau, warisan diberikan menurut aturan Matrilineal (menurut garis Ibu).
Menurut hukum Islam maka pembagian warisan itu berdasarkan
garis patrilineal (garis keturunan ayah). Sedangkan kebiasaan lama yang buruk
dan bertentangan dengan agama adalah berjudi, menyabung ayam serta meminum
minuman keras. Salah seorang pemimpin kaum Adat ialah Datuk Sati.
·
Kaum Padri adalah kelompok masyarakat
Islam di Sumatra Barat yang telah menunaikan ibadah haji di Mekkah serta
membawa pandangan baru. Terpengaruh oleh gerakan Wahabi mereka berusaha hidup
sesuai dengan ajaran Al’quran dan Hadist, berusaha melakukan pembersihan
terhadap tindakan-tindakan masyarakat yang menyimpang dari ajaran tersebut.
Beberapa tokoh kaum Padri adalah Haji Miaskin, Haji Sumanik, Haji Piobang.
Tokoh lainnya adalah Malin Basa ( terkenal dengan nama Imam Bonjol), Tuanku
Mesiangan, tuanku Nan Renceh dan Datok Bandaharo.
B. Jalannya Perang Padri
I.
Tahun 1821-1825
Pada bulan April tahun 1821 terjadi pertempuran
antara kaum Padri melawan Belanda dan kaum Adat di Sulit Air dekat danau
Singkarak.
Belanda mengirimkan tertaranya dari Batavia di
bawah pimpinan Letkol Raaf dan berhasil menduduki Batusangkar dekat Pagaruyung
lalu mendirikan benteng yang bernama Fort Van der Capellen.
Pada tahun 1824 dan 1825 terjadi perjanjian
perdamaian antara Belanda dengan kaum Padri di Padang yang pada pokoknya tidak
akan saling menyerang.
II.
Tahun 1825-1830
Pada
periode ini Belanda juga sedang menghadapi perang Diponegoro sehingga perjanjian
perdamaian di atas sangat menguntungkan Belanda. Untuk menghadapi Kaum Padri,
Belanda membangun benteng disebut Fort de Kock (nama panglima Belanda) di
Bukittinggi.
III.
Tahun 1831-1837
Belanda
bertekad mengakhiri perang Padri setelah dapat memadamkan Perang Diponegoro.
Tindakan yang dilakukan Belanda adalah mendatangkan pasukan dipimpin oleh
Letnan Kolonel Elout kemudian Mayor Michaels dengan tugas pokok menundukkan
Kaum Padri yang berpusat di Ketiangan dekat Tiku. Selain itu Belanda juga
mengirim Sentot Ali Basa Prawirodirdjo ( bekas panglima Diponegoro ) serta
sejumlah pasukan dari pulau Jawa walaupun kemudian berpihak kepada kaum Padri.
Sejak
tahun 1831 kaum Adat bersatu dengan kaum Padri untuk menghadapi Belanda.
Pada
tanggal 25 Oktober 1833 Belanda menawarkan siasat perdamaian dengan
mengeluarkan Plakat Panjang yang isinya sebagai berikut:
1.
Belanda ingin menghentikan perang
2. Tidak akan mencampuri
urusan dalam negeri Minangkabau
3.
Tidak akan menarik cukai dan iuran-iuran.
4.
Masalah kopi, lada dan garam akan ditertibkan.
Imam
Bonjol tetap waspada dengan siasat Belanda itu. Setelah tahun 1834 terjadi lagi
serangan sasaran utama serangan Belanda adalah benteng Bonjol yang dapat
direbutnya pada tanggal 16 Agustus 1837. Belanda mengajak Imam Bonjol berunding
namun kemudian ditangkap. Ia dibawa ke Batavia lalu dipindahkan ke Miinahasa
sampai wafatnya tahun 1864 dalam usia 92 tahun. Perlawanan dilanjutkan oleh
Tuanku Tambusai yang dapat dikalahkan Belanda tahun 1838.
3.
Perang Diponegoro 1825-1830
Nama asli Pangeran Diponegoro adalah Raden Mas Ontowiryo, putra
Sultan Hamengku Buwono III. Karena pengaruh Belanda sudah sedemikian besarnya
di istana maka Diponegoro lebih senang tinggal di rumah buyutnya di desa
Tegalrejo.
Secara umum sebab-sebab
perlawanan Diponegoro dan para pengikutnya adalah sebagai berikut:
1.
Adat kebiasaan keraton
tidak dihiraukan para pembesar Belanda duduk sejajar dengan Sultan.
2.
Masuknya pengaruh budaya
Barat meresahkan para ulama serta golongan bangsawan. Misalnya pesta dansa
sampai larut malam, minum-minuman keras.
3.
Para bangsawan merasa
dirugikan karena pada tahun 1823 Belanda menghentikan sistem hak sewa tanah
para bangsawan oleh pengusaha swasta. Akibatnya para bangsawan harus
mengembalikan uang sewa yang telah diterimanya.
4.
Banyaknya macam pajak
yang membebani rakyat misalnya pajak tanah, pajak rumah, pajak ternak.
Selain hal-hal tersebut
ada kejadian yang secara langsung menyulut kemarahan Diponegoro yaitu
pemasangan patok untuk pembuatan jalan kereta api yang melewati makam leluhur
Diponegoro di Tegal Rejo atas perintah Patih Darunejo IV tanpa seijin
Diponegoro. Peristiwa tersebut menimbulkan sikap terang-terangan Diponegoro
melawan Belanda.
4.
Perang Bali tahun 1846-1849
Pada abad 19 sesuai
dengan cita-citanya mewujudkan Pax Netherlandica (perdamaian di bawah Belanda),
Pemerintah Hindia Belanda berusaha membulatkan seluruh jajahannya atas
Indonesia termasuk Bali. Upaya Belanda itu dilakukan antara lain melalui
perjanjian tahun 1841 dengan kerajaan Klungkang, Badung dan Buleleng. Salah
satu isinya bebunyi: Raja-raja Bali mengakui bahwa kerajaan-kerajaan di Bali
berada di bawah pengaruh Belanda. Perjanjian ini merupakan bukti keinginan
Belanda untuk menguasai Bali.
Apakah faktor yang
menyebabkan timbulnya perang Bali antara tahun 1846- 1849? Masalah utama adalah adanya hak tawan karang yang
dimiliki raja-raja Bali. Hak ini dilimpahkan kepada kepala desa untuk
menawan perahu dan isinya yang terdampar di perairan wilayah kerajaan tersebut.
Antara Belanda dengan pihak kerajaan Buleleng yaitu Raja I Gusti Ngurah Made
Karang Asem besarta Patih I Gusti Ketut Jelantik telah ada perjanjian pada
tahun 1843 isinya pihak kerajaan akan membantu Belanda jika kapalnya terdampar
di wilayah Buleleng namun perjanjian itu tidak dapat berjalan dengan
semestinya.
Pada
tahun 1844 terjadi perampasan terhadap kapal-kapal Belanda di pantai Prancah
(Bali Barat) dan Sangsit (Buleleng bagian Timur). Belanda menuntut agar
kerajaan Buleleng melepaskan hak tawan karangnya sesuai perjanjian tahun 1843
itu namun ditolak. Kejadian tersebut dijadikan alasan oleh Belanda untuk
menyerang Buleleng.
Bagaimana
jalannya perang Bali? Pantai Buleleng diblokade dan istana raja ditembaki
dengan meriam dari pantai. Satu persatu daerah diduduki dan istana dikepung
oleh Belanda. Raja Buleleng berpura-pura menyerah kemudian perlawanan
dilanjutkan oleh Patih I Gusti Ketut Jelantik.
Perang
Buleleng disebut juga pertempuran Jagaraga karena pusat pertahanannya adalah
benteng di desa Jagaraga. Perang ini disebut pula Perang Puputan mengapa?
Karena
perang dijiwai oleh semangat puputan yaitu perang habis-habisan. Bagi
masyarakat Bali, puputan dilakukan dengan prinsip sebagai berikut:
·
Nyawa seorang ksatri berada diujung senjata kematian di medan
pertempuran merupakan kehormatan.
·
Dalam mempertahankan kehormatan bangsa dan negara maupun keluarga
tidak dikenal istilah menyerah kepada musuh.
·
Menurut ajaran Hindu, orang yang mati dalam peperangan, rohnya
akan masuk surga.
Benteng
Jagaraga berada di atas bukit, berbentuk “Supit Urang” yang dikelilingi dengan
parit dan ranjau untuk menghambat gerak musuh. Selain laskar Buleleng maka
raja-raja Karangasam, Mengwi, Gianyar dan Klungkung juga mengirim bala bantuan
sehingga jumlah seluruhnya mencapai 15000 orang. Semangat para prajurit
ditopang oleh isteri Jelantik bernama Jero Jempiring yang menggerakkan dan
memimpin kaum wanita untuk menyediakan makanan bagi para prajurit yang bertugas
digaris depan.
Pada
tanggal 7 Maret 1848 kapal perang Belanda yang didatangkan dari Batavia dengan
2265 serdadu mendarat di Sangsit. Pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor Jendral
Van der Wijck menyerang Sangsit lalu menyerbu benteng Jagaraga. Serangan
Belanda dapat digagalkan.
Setelah
gagal, bagaimana upaya Belanda untuk menundukkan Bali? Pada tanggal 1849
Belanda mendatangkan pasukan yang lebih banyak berjumlah 15000 orang lebih
terdiri dari pasukan infanteri, kavaleri, artileri dan Zeni dipimpin oleh
Jendral Mayor A.V Michiels dan Van Swieten. Benteng Jagaraga dihujani meriam
dengan gencar. Tak ada seorangpun laskar Buleleng yang mundur, mereka semuanya
gugur pada tangal 19 April 1849 termasuk isteri Patih Jelantik yang bernama
Jero Jempiring. Dengan jatuhnya benteng Jagaraga maka Belanda dapat menguasai
Bali utara. Selain puputan Buleleng, perlawanan rakyat Bali juga terjadi
melalui puputan Badung, Klungkung dan daerah lain walaupun akhirnya pada tahun
1909 seluruh Bali jatuh ke tangan Belanda.
5.
Perang Banjar tahun
1859-1863
Perang Banjar merupakan
perlawanan rakyat terhadap Belanda di Kalimantan Selatan. Seperti halnya di
daerah lain di Indonesia sebab-sebab perang adalah:
·
Faktor ekonomi. Belanda melakukan
monopoli perdagangan lada, rotan, damar, serta hasil tambang yaitu emas dan
intan. Monopoli tersebut sangat merugikan rakyat maupun pedagang di daerah
tersebut sejak abad 17. Pada abad 19 Belanda bermaksud menguasai Kalimantan
Selatan untuk melaksanakan Pax Netherlandica. Apalagi di daerah itu diketemukan
tambang batu bara di Pangaronan dan Kalangan.
·
Faktor politik. Belanda ikut campur
urusan tahta kerajaan yang menimbulkan berbagai ketidak senangan. Pada saat
menentukan pengganti Sultan Adam maka yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah
yang disenangi Belanda. Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang lebih berhak atas
tahta hanya dijadikan Mangkubumi karena tidak menyukai Belanda.
Campur tangan Belanda di keraton makin besar dan
kedudukan Pangeran Hidayatullah makin terdesak maka ia melakukan perlawanan
terhadap Belanda bersama Pangeran Antasari, sepupunya. Siapakah para pengikut
perjuangan tersebut? Tidak kurang dari 3000 orang bersedia membantu termasuk
tokoh-tokoh agama seperti Kyai Demang Leman, Haji Langlang, Haji Nasrum dan
Haji Buyasih. Pasukan Antasari berusaha menyerang pos-pos Belanda di Martapura
dan Pangaron. Sebaliknya pada pertempuran tanggal 27 September 1859 Belanda
dapat menduduki benteng pasukan Pangeran Antasari di Gunung Lawak.
Tindakan Belanda berikutnya adalah menurunkan
Sultan Tamjidillah dari tahta sementara itu Pangeran Hidayatullah menolak untuk
menghentikan perlawanan lalu perti meninggalkan kraton, maka pada tahun 1860
kerajaan Banjar dihapuskan dan daerah tersebut menjadi daerah kekuasaan
Belanda.
Apakah tindakan Belanda terebut menyurutkan
perlawanan Pangeran Antasari? Ternyata tidak. Walaupun Kyai Damang Laman
menyerah dan Pangeran Hidayatullan tertangkap alalu dibuang ke Cianjur namun
Pangeran Antasari tetap memimpin perlawanan bahkan ia diangkat oleh rakyat
menjadi pemimpin tertinggi agama dengan gelar Panembahan Amirudin Khalifatul
Mukminin pada tanggal 14 Maret 1862. Ia dibantu oleh para pemimpin yang lain
yaitu Pangeran Miradipa, Tumenggung Surapati dan Gusti Umah yang memusatkan
pertahanan di Hulu Teweh. Perlawanan Antasari berakhir sampai meninggal dunia
tanggal 11 Oktober 1862 kemudian dilanjutkan oleh puteranya bernama Pangeran
Muhamad Seman.
6. Perang Aceh tahun
1873-1904
Sampai abad 19 Aceh
merupakan daerah yang berdaulat dan dihormati oleh dua imperialis di Indonesia
dan sekitarnya yaitu Inggris dan Belanda. Berdasarkan Traktat/perjanjian London
1824 maka Aceh dijadikan daerah penyangga (Bufferstate) antara kekuasaan
Inggris di Malaka dengan Bengkulu yang diserahkan Inggris kepada Belanda.
Tahukah Anda negara penyangga jajahan Inggris dengan Perancis di Asia Tenggara?
Ya benar, negara itu adalah Muangthai yang tidak pernah dijajah.
Keadaan tersebut tidak
dapat bertahan lama karena adanya kepentingan Belanda yang berniat menduduki
Aceh sehingga timbullah perlawanan rakyat Aceh.
a. Sebab-sebab Perang
Aceh:
·
Belanda merasa berhak atas daerah Sumatra Timur yang diperoleh
dari Sultan Siak sebagai upah membantu Sultan dalam perang saudara melalui
Traktat Siak tahun 1858, sementara Aceh berpendapat daerah terebut merupakan
wilayahnya.
·
Sejak Terusan Suez dibuka tahun 1869 perairan Aceh menjadi sangat
penting sebagai jalur pelayaran dari Eropa ke Asia.
·
Keluarnya Traktat Sumatra tahun 1871 yang menyatakan bahwa Inggris
tidak akan menghalangi usaha Belanda untuk meluaskan daerah kekusaannya sampai
di Aceh dalam rangka Pax Netherlandica
Bagaimana reaksi Aceh
menanggapi Traktat Sumatra yang mengancam kedaulatannya? Aceh berusaha untuk
mencari bantuan dengan mengirim utusan ke Turki. Selain itu juga dijalin
hubungan ke perwakilan negara Amerika Serikat dan Italia di Singapura. Tindakan
Aceh ini mencemaskan Belanda lalu menuntut Aceh agar mengakui kedautalan
Belanda. Aceh menolak tututan tersebut sehingga Belanda melakukan penyerangan.
Sifat perlawanan Aceh
ada dua macam yaitu politik dan keagamaan. Perlawanan politik bertujuan untuk
mempertahankan kedaulatan Aceh. Perlawanan politik dipimpin oleh para bangsawan
yang bergelar Teuku.
Siapakah tokoh-tokoh
bangsawan tersebut? Mereka antara lain Teuku Umar dan isterinya bernama Cut
Nyak Dien, Panglima Polim, Sultan Dawutsyah, Teuku Imam Lueng Batta. Perang
juga bersifat keagamaan yaitu menolak kedatangan Belanda yang akan menyebarkan
agama kristen di Aceh. Tokoh keagamaan adalah para ulama yang bergelar Teungku
contoh Teungku Cik Di Tiro. Golongan ulama tidak mudah menyerah dan kompromi
terhadap Belanda.
b. Jalan perang
·
Pada bulan April tahun 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Mayor
Jendral JHR Kohler menyerang Aceh namun gagal bahkan Jendral Kohler tewas dalam
pertempuran memperebutkan masjid Raya.
·
Pada bulan Desember 1873 pasukan Belanda dipimpin oleh Letnan
Jendral Van Swieten dapat menduduki istana serta memproklamirkan bahwa kejaraan
Aceh sudah takluk. Nama Banda Aceh kemudian diganti kota raja. Apakah Aceh
benar-benar sudah takluk kepada Belanda? Ternyata tidak demikian. Raja Aceh
yaitu Sultan Mahmudsyah wafat karena sakit. Putranya yang bernama Muhammad
Dawotsyah menjalankan pemerintahan di Pagar Aye. Rakyat Aceh tetap melanjutkan
perlawanan dipimpin oleh Panglima Polim.
·
Fase berikutnya sejak tahun 1884 Belanda mempertahankan kekuasaan
hanya di daerah yang didudukinya saja. Disitu dibentuk pemerintahan sipil.
Sistem ini disebut Konsentrasi Stelsel.
·
Pada tahun 1893 Teuku Umar melakukan siasat menyerah kepada
Belanda dan memperoleh kepercayaan memimpin 250 orang pasukan bersenjata
lengkap lalu diberi gelar Teuku Umar Johan Pahlawan. Apakah tindakan Teuku Umar
merupakan penghianaatan bagi bangsanya ? Ternyata siasat itu hanya untuk
mendapatkan senjata yang cukup guna menghadapi Belanda berikutnya.
·
Belanda cukup sulit menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Bagaimana
tindakan Belanda selanjutnya? Guna mengetahui sistem sosial serta rahasia
keuletan rakyat Aceh maka dikirimlah Dr. Snouck Hurgronye seorang ahli dalam
agama islam untuk menyelidiki hal itu.Hasil penyelidikannya dibukukan dengan
judul “De Atjehers” menurut Hurgronye ada dua cara untuk menundukkan Aceh yaitu
melakukan pendekatan kepada para bangsawan dan mengangkat putra-putra mereka
menjadi pamong praja pada pemerintah Belanda. Kaum ulama harus dihadapi dengan
kekuatan senjata sampai menyerah.
·
Sejak 1896. Belanda bertekad menyelesaikan perang dengan mengirim
pasukan marsose (polisi militer) dengan panglimanya Letnan Kolonel Van Geuts.
Dalam pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Pebruari 1899 Teuku Umar gugur.
Perlawanan masih berlanjut sampai akhirnya bulan Januari 1903 Sultan Dawutsyah
menyerah, September 1903 Panglima Polim juga menyerah. Mengapa Sultan Aceh
menyerah kepada Belanda? Ternyata hal itu karena kelicikan Belanda yaitu
mengultimatum Sultan untuk menyerah setelah menangkap isteri dan anak-anaknya.
Belanda masih melanjutkan pembersihan terhadap
daerah yang terakhir bergolak yaitu Gayo Alas (Aceh Tenggara) dipimpin oleh
Letkon Van Daalen tahun 1904, rakyat yang gugur 2922 orang. Perlawanan Cut Nyak
Dien masih berlanjut selama 5 tahun. Ia memimpin pasukan keluar masuk hutan
rimba dengan tekad rela mengorbankan jiwa raga demi kemerdekaan bangsanya serta
mengusir Belanda. Perlawanan Cut Nyak Dien berakhir tahun 1905. Ia ditangkap
dan dibuang ke Cianjur lalu Sumedang hingga wafat 6 Nopembeer 1908, sedangkan
Cut Meutia gugur tahun 1910.
7. Perang Tapanuli
1878-1907
Di wilayah Tapanuli
terdapat beberapa kerajaan suku Batak salah satunya berpusat di Bakkara. Raja
terakhir di Bakkara ialah Sisingamangaraja XII.
Apa sebab terjadi perang
Tapanuli? Sebab-sebab terjadinya
peperangan adalah:
o Raja Sisingamangaraja
tidak senang daerah kekuasaannya dikuasai Belanda yaitu Tapanuli Selatan.
o Untuk mewujudkan Pax
Netherlandica, Belanda berniat menguasai Tapanuli Utara pada saat yang sama
Belanda juga melancarkan peperangan di Aceh.
Perang dimulai ketika
Belanda menempatkan pasukannya di Tarutung, untuk melindungi penyebaran agama
kristen yang dilakukan oleh Nommensen yang berkebangsaan Jerman.
Sisingamangaraja XII menyerang kedudukan Belanda di Tarutung. Selama 7 tahun
terjadi peperangan di Tapanuli Utara yaitu di daerah Bahal Batu,
Soborong-borong, Balige Laguboti dan Lumban Julu.
Bagaimana tindakan
Belanda menghadapi perlawanan rakyat Tapanuli? Pada tahun 1894 pasukan Belanda
dikerahkan untuk merebut Bakkara sebagai pusat kekusaan Sisingamangaraja XII.
Akibat penyerangan terebut Sisingamangaraja pindah ke Dairi Pakpak.
Pada tahun 1904 pasukan
Belanda pimpinan Van Daalen dari Aceh Tengah melanjutkan gerakannya ke Tapanuli
Utara dan berhasil mendesak pertahanan Sisingamangaraja XII. Pada tahun1907
pasukan marsose dipimpin oleh Kapten Hans Christoffel berhasil menangkap Boru
Sagala, isteri Sisingamangaraja XII serta dua orang anaknya, sementara itu ia
dan para pengikutnya menyelamatkan diri ke hutan Simsim. Bujukan agar raja mau
menyerah ditolaknya. Akhirnya dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907
Sisingamangaraja XII gugur juga Lopian puterinya dan dua orang puteranya yaitu
Sutan nagari dan Patuan Anggi. Jenasahnya dimakamkan di depan markas militer
Belanda di Tarutung lalu dipindahkan ke Balige. Gugurnya Sisingamangaraja XII
telah menambah deretan pahlawan perjuangan kemerdekaan. Perang Tapanuli adalah
perang terakhir menghadapi Belanda dengan senjata. Setahun kemudian perlawanan
bangsa Indonesia ditandai dengan munculnya pergerakan nasional melalui lahirnya
Budi Utomo.
8. Struktur perlawanan
bangsa Indonesia dalam menentang dominasi asing
Ditinjau dari segi waktu
lamanya perlawanan daerah di Indonesia menentang Belanda pada abad 19 yang
paling lama adalah Aceh
Kaum Bangsawan
- Pattimura ( Maluku )
Jelantik ( Bali ) - Teuku Umar ( Aceh )
- Jawa ( Diponegoro ) P.
Antasari ( Banjar )
- Sisingamangajara XII (
Tapanuli )
Kaum Agama
- Jawa: Kyai Mojo -
Padri : Imam Bonjol
- Aceh: Teungku cik Di
Tiro
Tokoh Sentral, Maluku, Bali, Tapanuli
- Kelompok: Diponegoro,
Banjar, Aceh, Padri
Pengikut perang
- Anggota keluarga
bangsawan, dan raja
- Rakyat umumnya petani
Secara umum contoh senjata tradisional adalah :
tumbuh pedang dan panah serta senjata Khas daerah misalnya:
- Jawa, Keris, Aceh,
rencong, Banjar, mandau
- Padri: Kalewang
Senjata Api: dari hasil
pembelian atau rampasan
A. Bentuk pertahanan: Sistem benteng ( Jagaraga di Bali )
B. Taktik perlawanan:
- perang gerilya
- perang puputan (
khusus di Bali )
- serangan mendadak
Strategi Belanda
- Devide et impera
- Tawaran yang menyerah
mendapat kedudukan
- Penyusupan dan
penyelidikan: contoh Dr. Snouck Hurgronye
- benteng stelsel dan
konsentrasi stelsel
- menangkap keluarga
pemimpin perang agar mudah menyerah contoh:
keluarga Sultan Aceh, anak dan isteri
Sisingamangaraja
- penaklukan
- Secara licik diajak berunding kemudian di
tangkap
Perlawanan bangsa
Indonesia mudah dipatahkan karena:
Sporadis: terpencar tanpa koordinasi, masih
bersifat kedaerahan
- Tergantung pemimpin,
jika pemimpin tewas atau tertangkap atau menyerah
maka perlawanan akan terhenti.
- persenjataan kalah
maju karena mengandalkan senjata tradisional
- kurang terorganisir dengan baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar